Selesai makan siang aku duduk ditaman belakang, lalu Yudha menghampiriku dan ikut duduk di kursi anyamansebelahku. “ngapain Na?” tanya Yudha.“gakpapa cuman masih mekirin keadaan Diondi Rumah Sakit aja” ujarku. “ow,,yakinlah Dion pasti bisa sembuh kok” kata Yudha. “semoga saja begitu” sahutku.“Na”ucap Yudha dengan sangat lembut kepadaku. “ada apa Yudh?” sahutku. “emm..Dion itu sepetinya kalau aku liat di perhatian banget sama kamu” kataYudha. “(kamu benar Yudh, sayang nya akuyang bodoh aku nggak perna melihat kebaikan dia aku hanya terlalu mikirin kamuYudh)” kataku dalam hati. “ahh enggaklah Yudh, biasa saja” ucapku. “enggakNa, Dion itu suka sama kamu” ujar Yudha.“emm J” aku hanyasenyum pada Yudha. Beberapa menit kemudian Yudha pamit pulang karna mendapattelfon dari Papanya.
Malamitu Shyta menelfonku “Na, beneran Dionsama Gilang kecelakaan?” tanaya Shyta. “iya,mereka sekarang lagi di rawat di RS dr.Sutomo” jawabku. “terus gimana keadaan mereka?” tanyaShyta.“Alhamdulillah Gilang luka ringandan udah mendingan keadaannya” jawabku.“lalu, Dion?” ujar Shyta. “Dion, hikshiks... Dion terbaring kritis di ruangan ICU Shyt” kataku (sambil menangistersedu-sedu). “masyaAllah, Dion semoga kamu lekas sembuh Dion” ujar Shyta. “Amiin” jawabku. “yaudah Na, aku tutupdulu ya telponya, Assalamu’alaikum” kata Shyta. “iya, waalaikumsalam” jawabku.
Keesokanharinya aku berangkat ke sekolah, kali ini Shyta nggak bisa jemput aku karnadia lagi ada urusan mendadak, dan terpaksa aku di anterin oleh pak supir.Rasanya hari ini aku nggak semangat banget, males banget ke sekolah. Aku masihmemikirkan gimana keadaan Dion. Dion, meskipun dia hanya aku anggep hanyasekedar sahabat tapi dia selalu ada buatku, gimanapun sikapku ke dia, dia tetepselalu ada buatku, aku bangga punya sahabat sepeti Dion. Meskipun seringkalisikapnya itu agak menggangguku tapi aku tau bahwa dia mau nunjukin yang terbaikdi hadapanku, sayangnya yang aku pikirkan di otakku hanyalah Yudha, Yudha, danYudha. Aku nggak tau kenapa alasan itu yang membuatku sehingga tak bisa melihatketulusan seorang Dion kepadaku. Ketika aku berjalan menuju kelasku, hampirsetiap hari Dion menyapa dan menungguku masuk ke dalam kelas. Tapi, kali initak ada siapapun yang menyapa dan memperhatikanku. Aku langsung masuk dan dudukdi bangkuku. Pelajaran Bahasa Indonesia pun di mulai, yah itu mata pelajaranyang ku gemari tapi hari ini rasanya hambar, kosong tak ada semangat untukmemulai pelajaran. Tapi bagaimanapun aku ini sekolah, mencoba menerima pelajranpertama ini aku harus semangat. Pulang sekolah, sore itu aku langsungberpikiran buat njenguk Dion. Ternyata tiba-tiba sepeda motor Yudha berhenti disampingku. “Na, pulang bareng yuk” ajak Yudha.“emm.. oke, tapi mau ikut ak dulu nggak?” sahutku. “yaya,,kemana emang” tanya Yudha. “udahjalan aja dulu” ujarku. Akupun langsung naik ke sepeda motor Yudha. “Yudh, ke RS yuk jenguk Dion sama Gilanglagi?” ajakku. “loh kemerin kanudah!!”kata Yudha. “iya, tapi akukhawatir sama mereka” ujarku. “owh,okelah apasih yang egk buat tuan putri” rayu Yudha. Aku hanya tertawamelihat gombalan si Yudha. Sampai di RS aku dan Yudha ketemu Gilang samakeluarganya yang sudah ada di lobby, ternyata sore itu Gilang sudah bolehpulang. Dan akhirnya aku dan Yudha langsung menuju ke ruangan Dion. Keadaan Dionmasih sama kayak kemarin, badan nya juga masih dengan alat-alat rawat. Tapikata Ibu Dion yang kebetulan pada saat itu beliaulah yang menjaga Dion selamaada di rumah sakit. “jangan terlalukhawatir sama Dion, tadi Dion sempat sadar sayangnya sekarang dia lagiistirahat” kata ibu Dion. “benarkahtante?” kataku. “Iya, Alhamdulillah”sahut ibu Dion. “Syukurlah”kataku. “nanti kalau dion udah bangun pasti ibubilangin ke dia kalau kamu dan Yudha habis dari sini njenguk dia” kata IbuDion. “iya te, yasudah kita pamit pulangdulu yah” ujaku.
Aku dan Yudha akhirnya pulang, Yudhamengantarkanku sampai depan rumah.
“Yudh, makasih yah”
“Iya Na, sama-sama”
“hati-hati di jalan kamu, jangan ngebut”
“hehe, kamu juga inget jangan terlalu khawatir sama Dion kata ibunya Diontadi”
“hehe, okelah”
“oh yah, jangan telat makan juga ntar kamu sakit lo”
“iyaiya, makasih perhatiannya”
“ihh biasa aja tuh Na”
“ihh kamu yah? Udah pulang-pulangsana”
“yee ngambek nih”
“enggak yee”
“emm.. aku pulang deh, Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar